Perjuangan melawan PCOS

Hampir dua tahun menikah, saya kog agak sedikit was-was ya kog belum hamil-hamil juga padahal kalau dipikir-pikir menstruasi lancar tiap bulan ( meskipun pernah ada sebulan agak tersendat) dan lumayan rutin juga berhubungan dengan suami. Yah, wajarlah saya sedikit kuatir. Jadi, sebelum ke cerita pcos… Saya ada sedikit pengalaman.

Jadi, sekitar satu bulan setelah menikah, saya ada gatal-gatal pada area kewanitaan. waktu saya daftar d RS kota M ( saya sengaja samarkan kotanya) ternyata dokter kulit mereka tdk ada, jadi saya disarankan ke dokter kandungan aja. Ok. “Sekalian USG Bu, sudah menikah kan? Siapa tahu dokter nya ada saran” begitulah kira-kira yang dikatakan petugas administrasinya. Singkat cerita saya USG melalui perut, si dokter bilang kalau rahim, dan semua bentukan di sekitar peranakan saya baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu rejeki saja dari Tuhan. Dan saya diberikan hasil usg saya. Ok, saya tenang dong ya.

Lalu, per Oktober ke awal Desember 2018, kog haid saya gak dapat ya tapi saya test pack berulang kali hasilnya tetap negatif. What happen ya ? Saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke RS tsbt dan minta di USG melalui trans v. And, you know what? Inilah yg membuat saya agak sedikit kesal. Respon dokter obgyn nya kala itu( dokter nya bukan yg pertama kali itu) sangat sedikit sadis. Caranya memperlakukan saya sbg pasien agak kasar menurut saya. Cara si dokter memasukkan alat USG, cara menjawab pertanyaan, seolah-olah saya gak penting bagi doi. Ketika saya tanya ada masalah gk dok, kog saya gk haid? Dia bilang oh, masalah perubahan hormon saja. Ibu, saya mau resep obat tapi harganya mahal loh bisa gk ya ibu beli? Oh ya satu lagi, ibu kan masih baru menikah, yaudah sabar aja gak usah buru-buru gt kalau mau hamil. Kalau udah dua tahun ya gpp lah. Atau kalau ibu mau nanti kalau habis minum obatnya, ibu haid hari kedua konsultasi lagi ke sini. Jleb!!! Langsung mati rasalah hati ku saat itu. Kami tebus obatnya harganya 500rb an kalau tidak salah. Saya bahkan gak tau itu obat apa ketika itu. Malas saya lihatnya dan benar gak dikonsumsi satu pil pun. Sampai suami bilang “kog jadi buang-buang duit loh yang”. Belakangan saya tahu itu adalah pil KB yang biasa diresepkan dokter untuk penderita pcos atau gangguan hormonal.

Selesai lah prahara dokter itu karena saya haid lagi dua hari setelah kami cek. Dan betulan gk niat mau balik lagi untuk konsultasi ke obgyn itu lagi. Tapi….. There was something change in my body…. kog ya durasi haid agak memendek ya… dan nyeri haidnya luar biasa sakit. Sumpah. Sampai-sampai kalau belum diurut sama suami, rasanya aku mau mampus. Ngurutnya bisa sampai 3 kali sehari. Kayak minum obat saja. Syukurlah suami baik..#pelukmanjasuami heheh Dan itu berulang-ulang ke beberapa bulan di tahun 2019..

Semenjak dokter obgyn yg sedikit sadis itu mempengaruhi mood saya, saya sedikit membuang pikiran ttg kehamilan. Sampai akhirnya, Juli 2019 suami minta ijin cuti biar kami bisa liburan lagi ( meskipun gk berjalan lancar sepenuhnya)

Dari sekitar bulan Agustus – September, perut saya sering kram meskipun sudah minum obat, diurut dan segala macamnya. Sampai-sampai suami saya bingung… Ini anak kog byk bgt gt ya penyakit nya. Hahahaha. #suamikusayangsabarya 🙂

Finally, tgl 07 September 2019… Saya ajak suami ke RS di kota N, mau cek ke obgyn. Pagi-pagi kami buru naik speed boat. Seperti nya saya sudah gk sabar lagi, what exactly happen with my body. Apa yang sebenarnya tidak dijelaskan oleh dua dokter obgyn sebelumnya yg pernah saya temui sekitar setahun lalu.

Setelah urus administrasi dan ketemu perawatnya, kami disuruh menunggu sekitar satu jam karna pak dokter sedang ada tugas operasi. And singkat cerita, saya dan suami ketemu dokternya. Doi ramah, caranya memilih kata-kata juga bagus. Contohnya gini nih, saya kan agak gendut. Jadi dia gak langsung nge judge saya “ibu sih gendut banget… Makanya jaga pola makan dong…blabla.. ” si dokter (menurut penilaian saya ) memilih kata-kata yang tepat untuk membuat pasien nya merasa nyaman. Bahkan waktu doi melakukan USG trans v, doi menanyakan kondisi dan kenyamanan saya sebagai pasien.. overall ok lah.

Akhirnya, dari hasil usg trans v tsbt saya didiagnosa menderita Polikista/ PCOS (Polycistik Ovarium Syndrom). Pcos itu suatu kondisi dimana sel telur gak mengalami kematangan. meskipun haid saya lancar tapi kalau sel telur nya gk matang ya gimana mau terjadi pembuahan. Sel telur itu banyak dan ukurannya kecil-kecil dan ada beberapa yang di bungkus dengan cairan berbentuk mutiara. Itu sih yg saya lihat dari hasil usg.

Pak dokter bilang pcos ini tdk dtg tiba-tiba tapi banyak tanda yang muncul. Kalau case nya di saya adalah: haid yg tadinya 4 – 5 hari, tiba-tiba jadi dua hari saja, nyeri haid berlebihan, ada bulu-bulu di wajah (kumis dan janggut, perut, kaki) dan sel telur saya yang kecil-kecil oh ya satu lagi obesitas.

Penyebab utama pcos adalah gaya hidup/lifestyle yang tidak baik. Yah, saya akui memang saya doyan mie instan, goreng-gorengan, semua yang enak-enak di mulut lah.. sekarang saya nyesal mengapa selama ini saya selalu memasukkan sampah ke tubuh saya. Hiks. #bullymakananinstan

Karena tujuan saya hamil, saya diberikan terapi hormon yaitu Metformin dan suplemen yakni folavit. Obat ini bakal saya konsumsi sampai Desember. Dan Desember nnti saya disarankan cek sel telur lagi, ada perubahan apa tidak. Selain itu, saya diharuskan olahraga (jalan atau cardio 1/2 jam sehari), makan sehat dan diet.

Dari September sampai Oktober ini, setelah saya jalanin saran dokter meskipun diet dan olahraga gak se konsisten orang-orang, ada perubahan yang terjadi di tubuh saya. Haid saya bulan September jadi 4 hari dan nyeri haid berkurang. Oh ya, kog beberapa pakaian saya yang mulai menyempit di badan, kog pada mulai bisa dipakai ya? Badan saya juga makin fit. Jalan 30 menit sudah gak ngos-ngosan lagi.. heheh… ( Wah,, amazing 😀

Fyi, saya masih makan nasi tapi porsinya dan kuantitas nya saya kurangi. Kalau dulu bisa 3 kali sehari, sekarang kalau pengen saja. Karbohidrat saya ganti gandum, nasi merah, kadang-kadang jagung.. makan buah dan sayur juga wajib. No caffein and no MSG.

Semoga saya konsisten, semoga saya segera sembuh, semoga segera dua garis biru. But, segalanya adalah hak dan otoritas Tuhan.. saya dan suami hanya bisa berusaha sekuat dan semaksimal kami.

I will share you my next pcos journey… Semoga semua pejuang pcos seperti saya ttp semangat 🙂

One thought on “Perjuangan melawan PCOS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s