Menyebrang di “Laut Kalimantan”

DSC00887

Pesawat kami mendarat jam 11 WITA Malam di Bandara Juwata Internasional Tarakan, Kalimantan Utara. Ini kali kedua saya menginjakkan kaki di bumi Borneo ( Setelah beberapa tahun lalu di Banjarmasin) tapi kali ini agak sedikit berbeda karena jalannya dengan Suami dan katanya kami bakal menyebrang lautan selama 3 jam. Kami rencananya akan berangkat dari pelabuhan Tarakan. Pulau Tarakan ini menjadi pusat perekonomian provinsi termuda – provinsi ke 34 Indonesia Kalimatan Utara dan beberapa ratusan tahun lalu sudah menjadi pulau penghubung antar pulau yang digunakan oleh penjajah. Konon katanya Jepang mendarat pertama kalinya di pulau ini januari 1942.

Sebenarnya saya dan suami sudah setting bakalan langsung terbang ke Malinau tetapi tiba-tiba harga ongkos pesawat yang berlambang singa itu – yang nota benenya baru saja Launcing Balikpapan – Malinau, harganya naik 3x lipat saudara. Pesawat capung juga kosong kalau penerbangan hari Minggu.  So akhirnya saya (sangat terpaksa) ikut pilihan suami naik speed.

Agak seram juga membayangkan naik speed selama tiga jam. Apalagi dulu seorang teman saya pernah cerita waktu mau ke Berau Kaltim, speed mereka harus berhenti di tengah lautan karena ombak yang sangat besar. Jadi saya menganggap kalau laut Kalimantan itu agak sedikit seram. Suami saya juga bilang kalau speednya mesin satu, kadang mau mati di tengah laut dan dia  pernah ngalami selama dipenyebrangan mesin speednya mati tiga kali ( what the hell.. no !!!!). Saya agak parno juga menyebrang lama-lama di lautan karena dulu saya pernah punya pengalaman agak sedikit “menengangkan” waktu menyebarang ke Pulau Tailana, Aceh. Jadi waktu itu kami lagi liburan di Singkil, kami masih senang-senang melihat keindahan laut yang biru tosca memesona, tiba-tiba ombak besar, hujan, mendung pula dan sepertinya abang perahu mutar-mutar kehilangan arah ( Tapi puji Syukur, Everthing is well).

Malam sebelum penyebrangan, kami memilih nginap semalam di Tarakan dan makan udang bakar pilihan pak Suami. Besoknya kami berencana berangkat naik speed yang pertama dari Pelabuhan tarakan ke Malinau yang katanya berangkat jam 08.00 WITA karena berangkat pagi ombaknya gak gede. Ternyata , pagi itu hujan turun dan makin membuatku sedikit dag dig dug.

Saya sempat merajuk sama suami agar kami pulang besok saja naik pesawat kecil. Tetapi karena beliau sudah memang membolos kerja selama dua hari jadi kepulangan kami sudah tak bisa ditunda. Setelah meyakinku dengan berbagai cara, saya akhirnya luluh.

“Yang, percaya ini bakal jadi pengalaman seru, nanti di tengah laut banyak pemandangan”

Tunggu punya tunggu, hujan baru berhenti sekitar Pukul 10.00 dan kami langsung berangkat ke pelabuhan. Ternyata ada speed yang akan segera berangkat dan ukurannya sedang ( eh, mesinnya tiga pula jadi katanya kalau satu mesin mati masih ada dua mesin penolong lagi. Jadi agak sedikit aman. Heheh)

Tak Lama kemudian, speed penuh dan kami disuruh mengenakan pelambung oleh nahkodanya. Saya memandangi sekeliling lautan, ombaknya tenang. Puji Tuhan.

Speed yang kami tumpangi akhirnya bertolak dari Pulau Tarakan menuju Kota Malinau. Ternyata benar apa kata suami, beberapa saat setelah kami meninggalkan buritan, banyak sekali kapal tongkang yang nongkrong di tengah lautan dan banyak speed yang lalu lalang dari berbagai arah membawa penumpang. FYI, lautnya juga berwarna coklat jadi saya merasa seakan-akan sedang menyebarangi sungai yang lebar sekali.

Laut Tarakan ini katanya menyimpan kandungan batu bara dan minyak yang sangat melimpah itulah sebab mengapa banyak sekali kapal-kapal pengangkut. Wah kekayaan alamnya yang melimpah akannya sebanding dengan keadaan penduduknya?

Sepanjang penyebrangan banyak pohon nipah yang tumbuh di pinggir Lautan dan ada beberapa rumah penduduk berdiri di pinggir pantai.

Tidak ada ombak yang terlalu besar tetapi banyak batang pohon tumbang yang mengapung di lautan. Ombak akan terasa berguncang kalau speed kami berpapasan dengan speed yang datang dari arah Malinau.

Penyebrangan yang sangat lama sekali, lewat dari 3 jam speednya juga belum sampai. Suami bilang, Nahkodanya agak lambat mengemudikanya. Hahah. Alasan saja. Kami butuh waktu 4 jam 15 menit baru tiba di pelabuhan Malinau.

Everything is well and my fair is not real. Kadang –kadang aku melampaui batas kemanusianku untuk terlalu takut.

“Siapakah diantara kamu yang karena rasa kuatirnya bisa menambahkan satu hasta saja untuk memperpanjang umurnya?”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s