Candi Borobudur – Mimpiku yang Sudah Lama Kunantikan

IMG-20170321-WA0007

Candi Borobudur mungkin adalah hal yang sudah biasa bagi sebagian orang tetapi tidak bagiku. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar lima belas tahun yang lalu, aku sudah sangat kagum dengan Candi Borobudur dan sangat ingin mengunjunginya ketika aku masih anak-anak dulu. Bagaimana tidak, hampir semua buku pelajaran sejarah dan buku pengetahuan umum mengatakan bahwa Indonesia memiliki candi megah yang dibangun ratusan tahun lalu pada masa Dinasti Syailendra yang terdiri dari batuan yang disusun dengan rapi dan relief batu yang bercerita tentang kehidupan masyarakatnya di zaman tersebut dari kasta yang paling rendah hingga paling tinggi. Candi ini yang sudah terkenal sampai ke mancanegara. Guru sejarah kami sering mengatakan bahwa Indonesia punya nenek moyang yang hebat dalam bidang arsitektur dan Candi Borobudur adalah salah satu buktinya.

Bagaimana mungkin bisa sehebat itu ya? kira-kira begitulah pikiran ku waktu itu. Mimpiku untuk bertemu Candi Borobudur semakin besar. Meskipun jarak antara Sumatera Utara dan Magelang – Jawa Tengah sangat jauh daan naik pesawat juga adalah hal yang sangat bergengsi tahun 90 an tetapi aku yakin suatu saat bakal berkunjung ke Magelang.

Bulan Maret lalu, aku bertekad harus mengunjungi Candi Borobudur. Beberapa kali berencana ingin mengunjunginya tapi belum ada waktu yang benar-benar tepat. Selain susah mencocokkan waktu dengan teman-temanku, jadwal cuti juga menjadi perkara yang sulit untuk diatur. Hingga akhirnya aku menemui tiket promo Kuala Namu – Adi Sucipto akhir tahun 2016 untuk keberangkatan tahun 2017, tanpa berpikir panjang aku langsung pesan tiketnya untuk keberangkatan Maret 2017. Aku juga sepertinya tidak akan punya patner traveling kali ini. Ah lihat nanti saja gimana ntarnya, pikirku.

Setelah hampir dua bulan tiket di tangan dan sepertinya aku akan solo traveling kali ini, tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang teman – kak Ika dan dia menanyakan apa rencanaku bulan Maret. Spontan saja jawabanku “solo traveling ke Jogjakarta dan Magelang kak”

Setelah percakapan dan perbincangan yang alot, akhirnya si Kakak tertarik untuk ikut. Puji Tuhan, tiket promonya masih ada. heheh 🙂

Tanggal 15 Maret 2017, kami rencananya akan terbang pukul 06.00 WIB dan sudah mengatur waktu tiba di bandara dengan tepat tetapi kami berdua ketinggalan pesawat. Perkiraan kami meleset.

Counter checkin sudah ditutup lima belas menit lalu mbak, pesawat kita sudah persiapan mau terbang bertolak ke Jogjakarta”

Satu kalimat pertugas bandara yang sempat membekukan semangat kami. Kami sempat berdebat dengan petugas bandara, rasanya pesawat diterbangkan lebih cepat dari jadwal. Tapi mau bilang gimana pun kami tetap sudah ketinggalan pesawat. Tetapi karena tiket yang kami beli adalah tiket sepaket untuk pergi dan pulang, dan tiket pulangya belum hangus akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket lain saja di hari itu. Kepalang mandi harus basah. Kami tiba di Bandara Adisucipto Jogjakarta sudah malam dan langsung menuju penginapan. Setelah dua hari keliling Jogjakarta, kami pun memutuskan untuk pergi ke Magelang. Kali ini kami tidak berdua saja tetapi aku memutuskan untuk mengajak seorang teman yang sedang kuliah di Jogjakarta. Putri namanya. Kami bertiga aku, kak Ika dan Putri memutuskan untuk menyewa jasa tour mengantarkan kami ke Candi Borobudur. Mas Pras namanya. Mas Pras menawarkan beberapa alternatif pilihan perjalanan langsung ke Candi Borobudur atau mau jalan ke Phuntuk Setumbu dan Gereja Ayam sebelum ke Borobudur. Kami memilih saran yang kedua.

Phuntuk Setumbu

Kami berangkat dari Jogjajakarta sejak subuh agar bisa bertemu dengan sunrise. Sesampainya di titik point Punthuk Setumbu kami menikmati kopi dan mie instan rebus dulu sebelum trekking. Setelah itu, kami berjalan menuju puncak dan trekking sekitar 1 jam.

IMG_20171210_133122

Phuntuk setumbu adalah bukit setinggi lebih kurang 400 mdpl untuk memandandang keindahan sunrise dan sunset di balik megahnya Candi Borobudur. Puncaknya tidak terlalu tinggi tetapi cukup membuatku ngos-ngosan karena aku memang jarang sekali olahraga. Setiba di puncak aku gak menyangka kalau puncak ini bakal ramai oleh para pemburu foto dan video. Aku juga baru tahu kalau puntuk setumbu lagi hits karena flim Ada Apa Dengan Cinta. Pantasan saja banyak anak muda yang datang kesini. Ketika kami berkunjung, banyak awan yang menutupi candi Borobudur tetapi keindahannya tidak akan pernah terbantahkan.

Gereja Ayam Bukit Rhema

DSC_0994
Gereja yang menyerupai burung merpati

Setelah beberapa jam menikmati Candi Borobudur dari Punthuk Setumbu kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Rhema. Perjalanan kesana juga membutuhkan stamina yang kuat karena lumayan capek juga, menuruni bukit dan kadang juga menanjak.  Bukit rhema juga dikenal dengan Gereja Ayam karena bentuknya seperti ayam kalau tidak diperhatikan dengan detail. Sebenarnya gereja ini berbentuk burung merpati. Menurut info yang aku dapatkan dari petugas kalau bangunan tersebut belum seratus persen selesai. Awalnya tempat ini dijadikan sebagai tempat rehabilitasi para pecandu narkoba. Tetap seiring berjalannya waktu tempat ini jadi eksis dan menjadi salah satu tempat wisata yang ngehits di Magelang. Untuk photo di puncak gereja kita jug harus antri. Pemandangan dari puncak gereja sangat sejuk dan gunung di Magelang Nampak terlihat sangat jelas.

IMG-20171204-WA0004
Salah satu sudut gereja
DSC_0992
Pemandangan dari Puncak gereja

Candi Borobudur

Hari sudah hampir siang dan kami masih perlu butuh stamina untuk perjalanan terakhir yaitu Borobudur. Setelah membeli tiket masuk kami melakukan perjalanan ke Borobudur. Karena waktu itu aku pakai celana pendek, jadi aku diwajibkan pakai sarung agar bisa masuk ke wilayah candi.

IMG-20170321-WA0006
Penghargaan Candi Borobudur Sebagai Word Heritage World

Aku benar-benar kagum dengan arsitektur Candi Borobodur yang luar biasa megah. Filosofi dan nilai reliefnya luar biasa. Perjalanan ke Candi Borobudur ini tidak hanya napak tilas yang mengulang kembali jiarah peninggalan terbesar Budha di negeri kita tetapi mengingatkan banyak hal dalam hidupku.

DSC_1022
Landscape Borobudur

Relief Borobudur menunjukkan dan menggambarkan tiga tingkatan bagaimana perjalanan manusia di dunia yang penuh hawa nafsu ( Kamadhatu), hubungan manusia dan manusia, hubungan manusia dengan Tuhan ( Rupadhatu) hingga akhirnya stupa teratas menunjukkan bagaimana Tuhan berada di atas seluruh kehidupan manusia ( Arupadhatu). Ketiga tingkatan tersebut mengingatkanku untuk selalu bersyukur atas segala sesuatu dan berusaha memiliki hubungan yang baik dengan manusia dan Tuhan semesta alam.

IMG-20170321-WA0002
Candid di Candi Borobudur

Hari sudah semakin sore dan matahari mulai kembali ke peraduannya. Itu pertanda bahwa kami harus segera mengakhiri perjalanan di Magelang. Perjalanan kami di Magelang memang hanya satu hari tetapi telah menyisakan kenangan yang indah. Aku tersenyum dan bersyukur setidaknya Tuhan telah mengabulkan satu dari sekian banyak mimpiku yang sudah sangat lama kunantikan yaitu melihat langsung dengan mata kepala ku sendiri si Candi Borobudur yang menjadi “Unesco World Heritage”.

Suatu saat jika Tuhan dan alam berkehendak aku akan kembali lagi ke Magelang – mengeksplore tempat wisata lainnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s