Kawah Ijen – Akhirnya Kita Berjodoh

DSC_2013
Blue Fire di Kawah Ijen, Kabupaten Banyuwangi – Jawa Timur Indonesia

Perjalanan ke Kawah Ijen seharusnya sudah kulakukan sejak dua tahun lalu. Tiket Pesawat Jakarta – Medan sudah di tangan, tiket kereta api Pasar Pasar Senen – Surabaya Gubeng juga sudah ada dan semua biaya perjalanan sudah dilunasin ke pihak agen perjalanan yang aku percaya, seharusnya tinggal berangkat saja dan angan-angan untuk mengunjungi Banyuwangi sudah sangat dekat. Tetapi karena ada hal mendesak yang harus kukerjakan bertepatan di jadwal rencana perjalananku waktu itu maka aku terpaksa menunda keberangkatanku ke Banyuwangi. Ada rasa kecewa tentunya, semua persiapan harus sia- sia begitu saja. Tiket pesawat, tiket kereta dan biaya trip sudah tidak bisa di kembalikan lagi. Tapi aku percaya Tuhanlah yang berkendak atas semua rencana-rencanaku. Semua akan indah pada waktunya. Itu saja yang kuyakini saat itu.
Sudah lama aku ingin melihat blue fire yang memang fenomenal dan hanya ada dua di dunia yaitu di Kawah Ijen dan di Dallol Volcano, Danakil Drepession Ethiopia. Aku iri melihat teman-teman ku yang seharusnya pergi dengan ku. Tapi mereka bilang blue firenya hampir tidak kelihatan dan ada teman yang tidak beruntung melihat fenomena alam ini waktu mereka pergi kesana.
Bulan lalu, aku dan adikku – Ishak mengikuti salah satu test yang bertepatan diadakan di Jakarta. Karena jadwal test yang kami ikuti tersebut pelaksanaannya berjarak beberapa minggu dengan jadwal pengumuman, akhirnya kami berencana pergi ke luar Jakarta sembari menunggu hasilnya. Setelah beberapa hari menentukan pilihan, jatuhlah pilihan kami ke Banyuwangi. Kami mencari tiket kereta api di aplikasi traveloka. Memesan tiket kereta lewat traveloka sangat mudah karena aplikasinya sudah terunduh di ponsel. Selain itu juga bisa pilih tempat duduk, kami juga dapat potongan 30 ribu Rupiah untuk tiket Jakarta – Surabaya. Traveloka juga memberikan opsi rute kereta yang akan kami naiki jika tujuan akhir kami Banyuwangi yaitu dengan pilihan Jakarta Pasar Pasar Senen – Surabaya Gubeng, Surabaya Gubeng – Banyuwangi Baru. Pembayaran pemesanan tiket di traveloka juga sangat praktis, hanya tinggal sms banking semuanya sudah selesai.

Setelah booking tiket kereta, kami mulai mencari penginapan dan transportasinya gimana nantinya perjalanan di Banyuwangi. Mencoba masuk ke situs pariwisata Banyuwangi, aku menemukan ada penginapan murah yang di sediakan pemerintah Kabupaten untuk para pejalan hemat sepertiku namanya Dormitory Tourism Banyuwangi, bukan hanya itu mereka juga menyediakan angkutan gratis ke hampir semua tempat wisata seperti Pulau Merah, Teluk Hijau, Pantai Sukamade, Pulau Tabuhan, Bangsring Underwater dan tentunya Kawah Ijen. Hal ini menjadi angin segar bagi kami untuk jalan-jalan hemat di Banyuwangi.  Aku sangat salut dengan pemerintah Kabupaten Banyuwangi karena mereka benar-benar memberikan hati untuk memajukan pariwisata Banyuwangi. Kami pun ikut daftar ke kawah ijen.
Jakarta, 24 Oktober 2017
Kereta Jayabaya Jakarta – Surabaya dijadwalkan berangkat Pukul 13.00 WIB dan Kami sampai di stasiun Pasar Senen Pukul 12.57 WIB. Kami berangkat dari penginapan pukul 09.00 WIB dan seharusnya tidak akan telat toh hanya sekali saja naik Commuter Line. Itulah yang ada dipikiranku saat itu. Tiba di stasiun Duren Kalibata dan sudah mengunggu 45 menit kog krl tujuan Jatinegara atau Pasar Senen gak kunjung datang? Mulai tanya petugas ternyata harus transit dulu di Manggarai, dari Manggarai ke Jatinegara dari Jatinegara ke Pasar Senen. Ribet. Hanya keberangkatan dari Jatinegaralah krl yang ada tujuan langsung Duren Kalibata, tidak berlaku sebaliknya. Okay, Kami tunggu kereta beberapa menit menuju Manggarai. Waktu terus berputar. Sampai di Manggarai, tanya petugas dan petugas ngarahin ke kereta yang tujuan Cikini. Mungkin doi juga bingung lihat wajah kami berdua yang kebingungan. Kami tau salah tujuan setelah di gerbong kereta dengarin pengumuman kalau tujuan akhir kereta Jakarta Kota. Apes. Sampai di stasiun Cikini, kami kejar-kejaran lagi nyari kereta tujuan Jatinegara. Sampai di stasiun Jatinegara waktu itu pukul 11.25 dan mastiin kalau kami berdua gak salah naik krl. Ternyata memang gak salah dan mencoba menenangkan diri bakal tiba di Stasiun Pasar Senen sebelum jam 13.00. 20 menit berlalu krl gak kunjung jalan. Mulai panik. Kami sepakat nunggu 15 menit lagi. 11.50 Masinisnya bilang “kereta anda terhambat keberangkatannya dan akan diberangkatkan pukul 12.45!!!” COBAAN APALAGI INI? Kami berdua langsung panik dan keluar stasiun cari taksi bilang ke supir taksi kalau bisa ngebut ke Pasar Senen karena Kereta akan berangkat jam 13.00. Itu artinya kami hanya punya waktu sekitar 1 jam dengan kondisi Jakarta yang macet parah. Pak Sopir sepertinya sudah mengerahkan seluruh tenaga agar kami tiba tepat waktu di stasiun Pasar Senen. Merasa bersalah juga karena nyuruh pak supir ngebut. Pukul 12.45 belum juga sampai stasiun. Sudahlah dalam hati mikir dan hampir pasrah ” mungkin belum waktunya aku pergi ke Ijen dan melihat blue fire”. Pukul 12.57 sampai stasiun dan lari sekencang kencangnya terus ada petugas yang nyamperin.
“mau kemana mbak?”
“Surabaya Pak”
“tiketnya sudah boarding?”
” belum pak, sambil panik nunjukin bookingan di aplikasi”
“oalah mbak, keretanya mau jalan ayo, kog bisa telat??” trus sipetugas teriakin temannya biar kami bisa masuk dan hanya nunjukin tiket di aplikasi traveloka. Petugas langsung nyuruh masuk aja dan kereta sudah jalan perlahan. Tiket kami di boarding setelah di dalam kereta oleh Bapak Kondektur. Terima kasih Traveloka karena gak perlu ribet urusin boarding tiket. Hampir saja jantungku copot dan pikiran batal ke ijen untuk kedua kalinya harus terulang.
Banyuwangi, 27 Oktober 2017
Setelah dihubungi oleh pihak dinas perhubungan kalau kami jadi berangkat ke Ijen dan harus kumpul di Terminal Brawijaya sebelum pukul 00.00 WIB, kami bergegas dari dormitory pukul 22.00 WIB dan tiba di terminal 15 menit kemudian. Sampai di counter Tourism Informationnya, mas petugasnya yang bernama Vian bilang kalau yang tiga orang lagi membatalkan ikut berangkat. Jadi yang akan berangkat kami berdua saja. Sembari menunggu supir troopernya tiba, aku ngobrol dengan mas Vian tentang bagaimana kog bisa ada angkutan gratis. Ternyata semua biayanya disubsidi oleh Dinas Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menarik wisatawan Domestik dan mancanegara berkunjung ke Banyuwangi.
Menit berlalu, jam pun berlalu, sudah pukul 01.00, kog pak supir belum juga nongol? Sejam kemudian, pak supir nelpon kalau Troopernya mogok. Ok fine. Gagal ke Ijen. Itulah yang pertama ada di otakku. Mungkin Tuhan gak berkehendak aku kesana. Lagi-lagi pikiran itu muncul. Mas Vian menawari kami ikut rombongan lain di tanggal 29 oktober. Padahal tanggal 28 Oktober kami sudah daftar ikut open trip ke Pulau Menjangan. Apa aku bakal sanggup sudah satu hari di pulau, malamnya naik ijen lagi? Trus adikku bilang ”Sudahlah kak, pasti sanggup itu”. “Naik gunung itu gak semudah membalikan telapak tangan loh dek apalagi satu harian gak ada istirahat pasti tepar”.
Mas Vian menimpali,”kalau gak kuat ntar ada bapak – bapak penambang kog mba yang bisa bawa mbak ke puncak”. Akhirnya kami daftar sebagai peserta rombongan yang berangkat 29 Oktober ke Ijen.
Banyuwangi, 29 Oktober 2017
Perjalanan menuju Ijen rasanya berat sekali. Pulang dari Pulau Menjangan aku gak bisa memejamkan mata padahal nanti malam harus ke puncak. Aku ngantuk sengantuk-ngantuknya. Tapi karena adikku semangatnya luar biasa aku pun ikut semangat juga dan mengingat mimpiku mau melihat blue fire.
Setelah berkumpul di terminal beserta lima orang anggota lainnya, kami berangkat ke Paltuding pukul 00.00 WIB. Perjalanan dari terminal ke titik awal pendakian ini sekitar 1 jam. Sesampainya di Paltuding, sudah banyak sekali orang, ada yang ingin mendaki ijen ada juga bapak-bapak penambang belerang yang menawarkan gerobaknya bagi para pengunjung “ taksi.. taksi bagi yang gak kuat jalan”. Benar-benar diluar perkiraanku karena selama ini kalau ke gunung biasanya sepi. Setelah membeli tiket masuk, kami bertujuh mulai trekking.
Sekitar 30 menit trekking, yang kutakutkan pun terjadi. Dadaku tiba-tiba sesak. Ah ada apa ini. Adikku mulai panik. Padahal ini bukan pengalaman pertamaku trekking tapi rasanya fisikku lemas sekali. Mungkin karena seharian sudah lelah bermain di Pulau Menjangan. Kaki ku juga rasanya berat untuk kulangkahkan. Teman-teman satu rombongan pun sudah pergi meninggalkan kami. Hampir 20 menit kami duduk dan aku hampir tidak yakin sanggup ke puncak. Sementara begitu banyak orang yang lalu lalang dan ada beberapa yang naik gerobak penambang belerang. Dan adikku menawari aku agar naik gerobak saja.
“Kita pulang saja dek, daripada nanti aku pingsan atau hal buruk lainnya terjadi” lontarku pada Ishak.
“Hush. Jangan berpikiran aneh-aneh kak. Kakak pasti bisa lihat blue firenya, sudah jauh–jauh kita datang kesini” ujarnya.
Kemudian, agak jauh dari kami ada bapak-bapak penambang yang bawa gerobak dan adikku menghampiri dan mereka tawar menawar harga untuk membawa ku sampai puncak. Awalnya tidak mau dibawa pake gerobak sampai puncak, gengsiku masih cukup tinggi waktu itu dan jujur aku malu harus diangkut kayak gitu. Adikku bilang buat apa malu, toh juga dari pada harus pulang atau maksain diri? Disini gak ada yang kenal kita dan kita juga harus bisa mengakui kelemahan kita. Ada benarnya juga apa yang diutarakan adikku. Aku pun naik dan didorong dengan gerobak oleh dua orang bapak penambang itu. Aku takut kalau-kalau gerobaknya jatuh kejurang tapi aku salut kepada penambang itu. Mereka kuat sekali meskipun sudah membawaku di dalam gerobaknya tetapi jalannya sangat cepat.

IMG_20171102_223638
Kawah Ijen

Satu jam kemudian kami sudah sampai di puncak. Dingin dan bau belerangnya menyengat. Aku sudah bisa melihat blue fire yang menyala-nyala di Kawah Ijen. Akhirnya Tuhan mengijinkanku menginjakkan kakiku di Kawah Ijen. Aku bersyukur karena semua indah pada waktunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s