Backpaker Danau Toba Sumatera Utara Travelling

Danau Toba hampir kehilangan Marwahnya

dsc_0114
Danau Toba dari Panatapan Sipincur, Desa Pearung Humbang hasundutan. Doc.Pribadi

Jika banyak tulisan yang menceritakan keindahan danau toba, maka kali ini saya ingin mengulas bahwa danau toba itu semakin hari semakin kehilangan keindahannya saja. Eits, para anak daerah yang berasal dari sekitaran danau toba atau kalian yang cinta sekali dengan danau toba, jangan sakit hati dulu. Tulisan ini dibuat dengan tujuan agar pariwisata di danau Toba semakin baik dan meningkat.

Saya adalah putri daerah Toba yang sangat ingin pariwisata danau toba di kenal dunia, bukan hanya Bali saja seharusnya yang bisa menjadi icon pariwisata Indonesia tetapi juga danau Toba pun bisa.

Jika kembali ke beberapa tahun lalu, di tahun 90 an ketika saya masih kanak-kanak saya masih ingat bahwa masih banyak bule atau wisatawan mancanegara yang berlalu lalang di sekitaran Danau Toba. Tetapi semakin memasuki tahun 2000an para pengunjung semakin sedikit bahkan sangat jarang ditemui, kalaupun ada itu kemungkinan adanya di sekitar Tuktuk Siadong. Yang seharusnya menjadi pertanyaan bagi kita warga di sekitaran Danau Toba “Mengapa penurunan angka kunjungan ini bisa terjadi?”

Tak bisa dipungkiri, Danau Toba itu indah sekali. Bahkan beberapa website travel dan perjalanan menempatkan Danau Toba sebagai salah satu danau terindah di Indonesia. Danau Toba juga akan ditempatkan di rekomendasi no 1 jika kita search “tempat wisata sumut”. Bayangkan saja danau ini terbentuk dari letusan Gunung Toba beberapa ratusan tahun lalu dan Danau Toba adalah kalderanya yang sangat indah. Dikellingi perbukitan dan gunung-gunung yang hijau memanglah menambah keindahan daya tariknya. Bahkan di salah satu majalah penerbangan di Indonesia, saya pernah baca bahwa Danau toba menjadi salah satu dari sepuluh tujuan wisata prioritas di Indonesia. ‘’Toba Lake is one of the top ten priority tourism in Indonesia”  Begitulah isi dari artikel itu. Dalam hati mikirnya pasti pemerintah bakalan kasih perhatian penuh untuk pembangunan pariwisata Danau Toba.

img_20170125_195453
Lokasi : Lumban Silintong Balige – Sumatera Utara. Saat Nelayan sedang menyebar jala ikan. Doc. Pribadi

Ini asumsi saya, Danau Toba semakin kehilangan marwahnya dan untuk itulah Bapak Presiden RI, Ir Jokowi menetapkan Danau Toba menjadi salah satu prioritas tourism. Masih asumsi saya mungkin beberapa hal ini yang menyebabkan danau toba semakin hari semakin gak karuan.

  1. Sampah dimana-mana

Coba saja jalan-jalan habisin waktu satu hari keliling  danau toba. Sampah berserakan dimana-mana. Baik di jalan, di depan rumah penduduk, di tempat makan, bahkan di tempat wisata. Saya kadang mikir, kog iya sih harus buang sampah sembarangan?. Itulah kurangnya kesadaran masyarakat  buang sampah sembarangan. Beda sekali dengan Bali, yang katanya jadi icon pariwisata di Indonesia itu bukan sampah yang dimana-mana tetapi tempat sampahlah yang ada dimana-mana.

  1. Kerambah ikan hampir di semua pinggiran danau.

Kalau yang ini, semenjak bapak Presiden mengeluarkan instruksi agar semua keramba ikan di Danau Toba tidak lagi diberdayakan maka saya semakin senang karena rasanya gak ngerusak pemandangan. Hanya di sekitar parapat saja yang masih ada beberapa keramba saya gak tahu percis itu kenapa masih belum diambil. Akibatnya memang ikan semakin mahal, karena petani ikan harus menebarkan jala ke tengah danau, yah ga apa-apa kan pendapat masyarakat bertambah.

  1. Kesadaran masyarakat yang kurang sadar wisata

Majunya sebuah icon pariwisata, itu sangat dipengaruhi oleh penduduk lokalnya. Saya sebagai penduduk lokal juga sangat sering menjumpai sesama penduduk lokal yang tidak peduli buang sampah sembarangan. Lha kalo diingetin, jawabnya : emang danau hanya punya oppung kau aja?!!!? Alamak. L

Kalau ada bule lewat juga bakalan disuitin, iya kalau hanya disuitin doank kalo dipalak juga? Nyuruh bayar tiket wisata mahal-mahal? Kalo mereka belanja harganya dinaikin 400 %. Apa gak kapok tuh wisman datang ngunjungi tempat kita? Hey. Para wisman itu gak sebodoh yang kita pikir mereka pasti sudah mengumpuli berbagai informasi tentang standar hidup di suatu tempat sebelum mereka traveling.

Pernah suatu ketika, ada seorang cewe ABG german travel alone ke Parapat katanya mau ke tempat yang pernah jadi tempat Oppung Nomensen menyebar injil di Tarutung, sehabis itu dia mau ke pusuk buhit, terus kami bercakap-cakaplah sedikit, ehh tiba-tiba ada inang-inang (*baca : inang itu sebutan ibu dalam bahasa batak) nawarin pisangnya ke bule, dengan nada memaksa pulak, trus si bule bilang gak suka dan gak pernah makan pisang ehh si inang minta tolongin ke saya waktu saya bilang bule gk mau, si Inang malah merepet dan menerka-nerka si bule gk punya duit. Dasar inang –inang Koplak. 😀 J

Masalah ini mungkin gak hanya terjadi di danau Toba saja, mungkin di beberapa tempat wisata di Indonesia. Sekali lagi, tulisan ini saya buat bukan untuk menjelekkan tapi agar kita semakin sadar untuk merawat yang sudah dititipkan Tuhan. Dulu, kalau Oppung saya cerita danau toba itu begitu sacral bagi orang batak tapi seiring berjalannnya waktu manusia-manusia modern sekarang gak peduli lagi buang sampah sembarangan.

Saya bersyukur sekarang sudah ada badan otorita danau toba yang setidaknya mulai membenahi kembali Danau Toba. Semoga program ini didukung masyarakatnya. 🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s